Forum Group Discussion (FGD) Industri Ikan Patin di Kabupaten Tulungagung

Pada hari ini Senin (1/4/2019) UNIDO (United Nation Industrial Development Organization) merupakan Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah sebuah badan khusus PBB yang didirikan untuk mempromosikan dan mempercepat perkembangan industrial di negara-negara berkembang serta negara-negara yang sedang dalam masa transisi ekonomi, serta untuk mempromosikan kerjasama industrial internasional melaksanakan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia serta bersama Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung bertempat di Ruang Venezia Hotel Crown Victoria Tulungagung. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan diikuti oleh 50 peserta dari supplier, pembudidaya, pabrik fillet, pabrik pakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung.

Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung Ir. Tatang Suhartono, M.Si menyampaikan bahwa Budidaya ikan patin di Tulungagung mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pada tahun 2016 Tulungagung menghasilkan patin sekitar dari 750 ton per bulan dan pada saat ini produksi patin Tulungagung lebih dari 1.500 ton per bulan. Sekitar 60-70% hasil produksi ini digunakan sebagai bahan baku perusahaan fillet karena patin produksi Tulungagung sebagian besar kualitasnya telah memenuhi kriteria sebagai bahan baku fillet, kriteria tersebut terutama adalah patin tidak bau tanah, warna daging keputihan serta ukuran seragam sesuai dengan ukuran fillet yang diminta pasar.

Keberhasilan budidaya patin karena sebagian besar pembudidaya telah menerapkan cara-cara budidaya ikan yang baik, antara lain pembudidaya telah melakukan manajeman kualitas air dengan cara mengganti air secara rutin dan penerapan probiotik untuk membantu memperbaiki kualitas air. Salah satu program SMART-Fish di Tulungagung juga untuk melatih dan mendorong penerapan cara budidaya ikan yang baik. Pada saat ini menjadi mudah bagi perusahaan fillet untuk memperoleh bahan baku fillet di wilayah ini.

Perusahaan fillet yang mengambil bahan baku dari Tulungagung ada sekitar 7 perusahaan. Tetapi masih terjadi kelebihan stok bahan baku di wilayah ini. Hal ini terjadi karena minat budidaya patin di wilayah ini sangat tinggi. Asosiasi Pembudidaya Catfish Tulungagung (APCITA) telah mencatat bahwa kelebihan stok mulai terjadi sekitar 3-4 bulan yang lalu. Saat ini diperkirakan stok patin diatas ukuran 1.5 kg lebih dari 2000 ton.

Berdasarkan kondisi diatas APCI bersama APCITA, bekerjasama dengan KKP, DKP Propinsi Jatim, Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung, dengan sponsor oleh program SMART-Fish akan menyelenggarakan Round Table Dialogue dengan tema: Penataan keseimbangan suplai-demand industry patin di Tulungagung dan sekitarnya. Dalam diskusi ini dihadiri seluruh stakeholder yang berkepentingan seperti : pembudidaya/asosiasi, supplier, perusahaan fillet, KKP dan DKP setempat.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun dialog yang konstruktif antar pembudidaya dengan perusahaan fillet untuk menghasilkan saling pengertian sehingga memudahkan kesepakatan bisnis diantara mereka dengan mempertimbangkan keseimbangan suplai-demand untuk menuju pemasaran yang lebih tertata dan membangun dialog yang konstruktif antara pemerintah dengan pelaku usaha patin untuk menghasilkan kebijakan local yang bisa mendorong kemajuan pemasaran patin. Adapun hasil yang ingin dicapai adalah :

a. Menghasilkan kesepakatan dalam mengatur suplai-demand yang saling menguntungkan untuk menghindari oversuplai.

b. Menghasilkan rekomendasi kebijakan pemerintah daerah untuk mendorong perkembangan pemasaran budidaya/industry patin

Narasumber Imzha Hermawan dari UNIDO dengan tema Perkembangan pemasaran patin

Kebijakan pemerintah (pusat dan daerah) dalam membangun industry patin yang berkelanjutan

Sinergitas hulu hilir

Acara selesai pukul 14.30 WIB dengan lancar dan sukses.

error: Content is protected !!