PERINGATAN SRADDA AGUNG BHINNEKA TUNGGAL IKA TULUNGAGUNG TAHUN 2022

Pemerintah Kabupaten Tulungagung bersama semua elemen masyarakat lintas tradisi, lintas agama, paguyuban seni budaya serta berbagai aliansi masyarakat sipil yang ada di Kabupaten Tulungagung menghadiri acara Peringatan Sradda Agung Bhinneka Tunggal Ika tahun 2022 bertempat di Candi Cungkup Sanggrahan dan Candi Gayatri, Kecamatan Boyolangu pada Senin,(26/12/2022) mulai pukul 08.00 WIB.

Acara peringatan Sradda Agung Bhinneka Tunggal Ika tahun 2022 ini diselenggarakan oleh Konsorsium Bhinneka Tunggal Ika Kabupaten Tulungagung yang terdiri dari unsur Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Tulungagung, Pondok Pesantren Al Badru Alaina, Ngantru, Tulungagung dan Institute for Javanese Islam Research (IJIR) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Hadir dalam kegiatan pagi ini, Bupati Tulungagung Drs.Maryoto Birowo,MM, Wakil Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo,SE, Pengasuh Pondok Pesantren Al Badru Alaina KH. Amu Sidiq Amanah, Ketua MLKI Tulungagung Ir. Sukriston, Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Kusnadi,S.H,M.Hum, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung Ahmad Baharudin,SM, Kapolres Tulungagung AKBP. Eko Hartanto,S.I.K,MH, Dandim 0807/Tulungagung Letkol.Czi. Nooris Agus Rinanto,S.I.P, Sekretaris Daerah Drs.Sukaji, M.Si, Perwakilan Kejari Tulungagung, Perwakilan Pengadilan Negeri Tulungagung, Forkopimcam Kecamatan Boyolangu, Kepala Desa Sanggrahan Iswanto serta Kepala Desa Boyolangu Anang Rahyudi.

Berdasarkan kajian sejarah kerajaan di Indonesia “Sradda Agung” merupakan upacara dan ritual suci dalam rangka memperingati dua belas tahun kematian Sri Gayatri Rajapatni. Beliau adalah putra Kertanagara, raja terakhir dari kerajaan Singasari dari permaisuri Sri Nrpati Kertarajasa Jayawardhana atau Dyah Wijaya.

Pada 1216 Saka (1294 M) bersama Dyah Wijaya ibunya, Gayatri Rajapatni ikut serta mendirikan kerajaan Majapahit dalam rangka meneruskan cita-cita raja Singasari dalam menyatukan Nusantara. Sejarah mencatat, Gayatri Rajapatni merupakan figur sentral yang mampu mengabadikan visi Cakrawala Mandala Nusantara (ajaran penyatuan) dan ajaran Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam Prasasti Genen II tahun 1251 Saka (1329 M) memberikan informasi bagaimana Gayatri Rajapatni adalah pelindung dan pembimbing dua raja besar Majapahit, yakni Tribhuwanatunggadewi dan Dyah Hayam Wuruk dalam mewujudkan cita-cita penyatuan Nusantara. Dan pada tahun Saka Drestisaptaruna,1272 (1350 M) Gayatri Rajapatni mangkat dan kematiannya menjadikan seluruh negeri menangis karena kehilangan figur sentral.

Pada tahun Diwasamasirahwarnna yakni 1284 Saka (1362 M), Raja Hayam Wuruk menggelar upacara “Sradda Agung” untuk mengenang jasa-jasa Gayatri Rajapatni dan bersamaan dengan itu didirikan Candi Pendarmaan untuknya di Kamal Pandhak (Wilayah Pandaan, Pasuruan) dan Boyolangu, Tulungagung.

Hingga saat ini masyarakat Tulungagung masih sangat menghormati sosok Sri Gayatri Rajapatni dan menganggapnya sebagai tokoh dengan visi penyatuan Nusantara dan Bhinneka Tunggal Ika. Penghormatan itu salah satunya dilakukan dengan menggelar peringatan atas jasa-jasa besar Gayatri melalui kegiatan arak-arakan festival atau pawai budaya dan ziarah napak tilas “Sradda Agung” seperti pada pagi ini dengan menggunakan semua jenis kendaraan, menyusuri rute dari Candi Sanggrahan menuju Candi Gayatri dan melibatkan semua unsur lintas tradisi, lintas agama, unsur pendidikan dan segenap komunitas elemen masyarakat se- Kabupaten Tulungagung.

Acara peringatan Sradda Agung pagi ini diawali ritual pembakaran dupa, ziarah tabur bunga dan do’a bersama bertempat di Candi Cungkup, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu. Doa bersama yang dipimpin oleh pengasuh Pondok Pesantren Al Badru Alaina KH. Amu Sidiq Amanah dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas diberikannya anugerah dan sekaligus permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar masyarakat Tulungagung dan bangsa Indonesia yang penuh keanekaragaman suku, adat, budaya serta agama dapat terus menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Bupati Maryoto Birowo beserta jajaran Forkopimda serta tamu undangan lainnya tampak khusu’ mengikuti ritual dan doa bersama ini.

Selanjutnya Bupati Maryoto Birowo dan Wakil Bupati Gatut Sunu Wibowo beserta jajaran Forkopimda berkenan mengikuti festival budaya yaitu arak-arakan dengan mengendarai kereta kuda yang diiringi berbagai kendaraan hias lainnya menuju Candi Gayatri yang terletak di desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu. Acara ritual dan doa bersama pun dilaksanakan di Candi Gayatri, Boyolangu hingga acara paripurna.

Sebagai informasi, acara Peringatan Sradda Agung Bhinneka Tunggal Ika Tulungagung tahun 2022 berisi rangkaian kegiatan festival kebudayaan sebagai berikut:

  1. Senin, 26 Desember 2022 mulai pukul 08.00-12.00 WIB napak tilas Sradda Agung menyusuri rute dari Candi Cungkup Sanggrahan menuju Candi Gayatri di Desa Boyolangu;
  2. Senin, 26 Desember 2022, bertempat di Ponpes Al Badru Alaina, Ngantru, Tulungagung mulai pukul 19.00- selesai, peringatan Sradda Agung akan diisi pidato kebudayaan bertajuk ” Makna Substansi Sradda Agung bagi pemupukan Wawasan Bhinneka Tunggal Ika dan pagelaran ketoprak dengan lakon “Cakrawala Mandala Nusantara”;
  3. Selasa, 27 Desember 2022, bertempat di Ponpes Al Badru Alaina Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, mulai pukul 19.00 WIB dilaksanakan Pagelaran Wayang Purwa dengan lakon ” Banjaran Wahyu Bhinneka Tunggal Ika” yang dibawakan oleh ketoprak Saribudoyo, Tulungagung.
error: Content is protected !!