UPACARA ADAT ULUR-ULUR DI TELAGA BURET DESA SAWO CAMPURDARAT

Jum’at (24/6/2022) Bupati Tulungagung, Drs. Maryoto Birowo, MM. dan Wakil Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, SE. menghadiri Upacara Adat Ulur-Ulur di Telaga Buret Desa Sawo Kecamatan Campurdarat.

Upacara adat ini adalah tradisi yang telah dilakukan sejak jaman nenek moyang terdahulu dengan maksud untuk menyampaikan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah air di Telaga Buret yang terus mengalir sehingga bermanfaat bagi masyarakat Desa Sawo, Desa Gedangan, Desa Ngentrong dan Desa Gamping untuk pengairan persawahan.

Upacara dimulai dengan kirab sesaji yang diberangkatkan oleh Camat Campurdarat, Heru Junianto, S.STP, MM. dari SMAN 1 Campurdarat hingga berakhir di Telaga Buret.

Seremonial penyambutan tamu ditampilkan gelaran Tari Gambyong yang dibawakan oleh 3 orang penari, dilanjutkan dengan pembacaan legenda asal usul terbentuknya Telaga Buret oleh Rektor Universitas Tulungagung, Dr. Muharsono, M.Si.

Dikisahkan bahwa dahulu kala terjadi paceklik panjang di Dukuh Glagah Wangen yang sekarang Desa Sawo sehingga terjadi gagal panen yang menyebabkan kelaparan. Hal ini terjadi karena perginya Dewi Sri dan Joko Sedono yang merupakan lambang kemakmuran, sandang dan pangan ke negeri Cempa, lalu dikirim utusan untuk membujuk Sri dan Sedono agar kembali ke bumi Glagah Wangen/Desa Sawo. Dewi Sri dan Joko Sedono mau kembali asalkan disediakan kijang kencana tracak waja dan gajah putih sebagai tunggangan.

Telaga Buret juga tidak lepas dari legenda Eyang Jigang Joyo, merupakan bangsawan Kerajaan Mataram yang bepergian berkuda bersama rombongan, di tengah perjalanan, mereka mendapati bayi sedang menangis, karena kasihan Eyang Jigang Joyo lantas membawa sang bayi tersebut bersamanya.

Pada saat beristirahat di lokasi yang sekarang disebut Telaga Buret, bayi tersebut menangis kembali karena haus dan membuat rombongan kebingungan, kemudian Eyang Jigang Joyo menggali lubang untuk mendapatkan air dan dari lubang itu muncullah air yang terus memancar menjadi telaga.

Sebelum pergi meninggalkan telaga pada hari Jumat Legi bulan Selo, Eyang Jigang Joyo berpesan kepada penduduk untuk melestarikan keberadaan telaga tersebut.

Dari warisan nenek moyang tersebut, maka tiap tahun sekali berdasarkan penanggalan Jawa, pada bulan Selo hari Jum’at Legi, Kasepuhan Sendang Tirto Mulyo melakukan upacara adat ulur-ulur.

Kasepuhan Sendang Tirto Mulyo merupakan paguyuban yang terdiri atas perwakilan sesepuh dari Desa Sawo, Desa Gedangan, Desa Ngentrong dan Desa Gamping yang selama ini mendapatkan manfaat langsung dari mata air Telaga Buret untuk pengairan pertanian.

Prosesi upacara adat ulur-ulur dilakukan dengan jamasan sepasang patung Dewi Sri dan Joko Sedono yang merupakan simbul kemakmuran sandang pangan oleh sesepuh wanita yang telah diberikan mandat oleh kasepuhan.

Dalam sambutannya, Bupati Tulungagung menyampaikan bahwa bertepatan pada tanggal 24 Juni 2022, penanggalan Jawa Bulan Selo hari Jum’at Legi, masyarakat kasepuhan Sendang Tirto Mulyo dan masyarakat Desa Sawo, Gedangan, Ngentrong dan Gamping melaksanakan upacara adat tradisi Ulur-ulur Telaga Buret sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan Karunia Tuhan Semesta Alam yang dilimpahkan kepada kita berupa air mengalir tiada henti dari Telaga Mburet yang membawa manfaat bagi lahan-lahan pertanian masyarakat.

Perlu diketahui bahwa adat tradisi Ulur-Ulur merupakan kearifan lokal yang harus dijaga dan lestarikan, tradisi ini juga sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2020. Pemerintah Kabupaten Tulungagung akan senantiasa mendukung terselenggaranya kegiatan ini, baik secara materiil maupun moril.

Usai sambutan, Bupati dan Wakil Bupati turut mengikuti prosesi dengan melakukan tabur bunga dan pelepasan ikan lele di telaga.

Turut hadir pada acara ini, perwakilan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Drs. Bambang Ermawan, S.Pd, Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Campurdarat, Pinisepuh Paguyuban Sendang Tirto Mulyo, Ketua Yayasan Perempuan Sarinah, Rindu Rikat dan masyarakat sekitar Telaga Buret.

error: Content is protected !!